Posting Blog

Sektor Pangan, Kosmetik, dan Energi Semua Diuntungkan dari Peningkatan Ketersediaan Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat

Pohon palem

Penulis: Mathew Rudolf

Di berbagai sektor industri, sertifikasi pihak ketiga terhadap kinerja keberlanjutan semakin berperan dalam mendorong perubahan menuju praktik produksi dan rantai pasok yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Hal ini terlihat sangat jelas dalam kasus minyak sawit. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sertifikasi minyak sawit berdasarkan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) telah mencapai tingkat penetrasi pasar global sebesar 21%, sebuah pencapaian yang luar biasa. Prestasi bersejarah ini membuka jalan bagi produsen untuk memasukkan minyak sawit bersertifikat ke dalam spesifikasi bahan baku produk mereka, sehingga mengubah lanskap industri secara keseluruhan dan memberikan dampak positif bagi manusia dan planet ini.

perubahan iklim
 

Meningkatnya penetrasi sertifikasi tidak hanya didorong oleh meningkatnya permintaan konsumen dan tekanan dari pembeli ritel, tetapi juga oleh langkah-langkah yang diambil pemerintah. Misalnya, di Eropa, Parlemen Eropa telah menyerukan pembatasan impor minyak sawit yang tidak berkelanjutan untuk digunakan sebagai bahan bakar nabati, dan mengusulkan agar, tidak seperti bahan bakar nabati lain yang dijual di Uni Eropa, digunakan satu skema sertifikasi yang disetujui untuk minyak sawit.

Mengapa hal ini begitu penting?

Minyak kelapa sawit sangat populer. Minyak ini merupakan minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia, dengan pangsa sepertiga dari total konsumsi minyak nabati. Penggunaannya mencakup berbagai macam produk, termasuk makanan olahan, kosmetik dan produk perawatan tubuh, deterjen, serta bahan bakar nabati.

Di sisi lain, minyak sawit telah menjadi simbol ketidakbertanggungjawaban, dengan orangutan yang terancam punah sebagai lambang ikonik dari segala yang telah salah.  Produksi minyak sawit telah berkontribusi terhadap deforestasi yang meluas di beberapa wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, termasuk Indonesia dan Malaysia, negara-negara produsen utama, sebagaimana disoroti dalam film terbaru Leonardo DiCaprio, Before the Flood. Deforestasi tropis ini telah mengakibatkan kerusakan ekosistem, serta hilangnya penyerapan karbon hutan secara substansial, yang sangat penting bagi iklim bumi.  Pembakaran lahan hutan juga menghasilkan karbon hitam, yang kini diakui tidak hanya sebagai polutan udara yang berbahaya, tetapi juga sebagai polutan iklim yang sangat kuat dalam laporan ilmiah terbaru dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Lahan gambut juga sedang dihancurkan, mempercepat pelepasan polutan iklim kuat lainnya, yaitu metana. Tidak heran jika upaya untuk mereformasi industri minyak sawit telah menarik begitu banyak perhatian.

produk kelapa sawit
 

Konsumen peduli

Kesadaran konsumen terhadap isu-isu lingkungan dan sosial kini berada di titik tertinggi sepanjang sejarah, sebuah faktor yang mendorong semakin banyak merek produk untuk mencari minyak sawit bersertifikat. Misalnya, di AS, survei konsumen terbaru dari Cone Communications melaporkan bahwa sebanyak 86% warga Amerika kini mengharapkan perusahaan untuk bersikap proaktif dalam menangani isu-isu sosial dan lingkungan, dan 79% di antaranya secara aktif mencari produk yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial. World Wildlife Fund (WWF), salah satu pendiri RSPO, menerbitkan laporan penilaian berkala untuk menilai pengecer dan perusahaan produk ternama berdasarkan kebijakan dan praktik minyak sawit mereka, sebuah alat bantu bagi konsumen yang ingin memilih secara bertanggung jawab.

Peran RSPO

Pada tahun 2001, menyusul keberhasilan pendirian Forest Stewardship Council pada awal 1990-an yang didasarkan pada model multipihak, World Wildlife Fund mengidentifikasi empat komoditas global tambahan yang terkait dengan masalah lingkungan yang signifikan, termasuk minyak sawit. Pertemuan perdana RSPO diselenggarakan hanya dua tahun kemudian, dengan visi sebagai sarana “untuk mentransformasi pasar agar minyak sawit berkelanjutan menjadi standar.” Roundtable tersebut mencakup anggota masyarakat sipil, petani kelapa sawit, produsen minyak sawit, pedagang, produsen produk, pengecer, dan pemangku kepentingan lainnya. Standar percontohan pertama muncul beberapa tahun kemudian pada pertengahan tahun 2000-an. 

Saat ini, terdapat dua standarRSPO – satu untuk produksi minyak sawit (RSPO P&Cs), yang berfokus pada pabrik pengolahan minyak sawit dan seluruh operasi industri hulu, serta satu lagi yang berfokus pada rantai pengawasan hilir (RSPO SCC), termasuk pengolah bahan baku, produsen produk, dan pengecer. Proses sertifikasi mencakup audit dokumentasi yang mendalam, inspeksi lapangan, dan wawancara.

Awalnya, sertifikasi terutama dilakukan di sisi produksi, tetapi belakangan ini jumlah sertifikasi rantai pasokan telah meningkat secara dramatis seiring dengan semakin banyaknya minyak sawit bersertifikat yang tersedia untuk digunakan dalam barang-barang konsumsi. Sebagian besar produsen yang memenuhi syarat di Indonesia dan Malaysia telah mendapatkan sertifikasi, dan produsen yang memenuhi syarat di negara lain juga mulai ikut serta. Mengingat pesatnya peningkatan sumber minyak sawit bersertifikat yang tersedia, kini semakin mudah bagi merek-merek untuk ikut serta.  Banyak yang sudah melakukannya, seperti Unilever, Baskin Robbins, Safeway, L’Oréal, dan Colgate-Palmolive, dan tekanan terhadap produsen produk untuk mematuhi standar ini semakin meningkat, terutama dari pelanggan ritel mereka. Dulu, kredit RSPO harus dibeli karena pasokan aktualnya tidak cukup. Namun, hanya dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir, pasokan yang telah disertifikasi sudah cukup untuk memenuhi permintaan akan minyak sawit bersertifikat.

Lanskap sertifikasi

Berbagai program sertifikasi telah bermunculan untuk mengatasi masalah ini. Selain RSPO, perusahaan yang beroperasi di Eropa dapat mengajukan sertifikasi melalui sistem ISCC (International Sustainability and Carbon Certification). Baru-baru ini, Malaysia dan Indonesia masing-masing meluncurkan program sertifikasi mereka sendiri (Malaysian Sustainable Palm Oil dan Indonesia Sustainable Palm Oil).  Upaya-upaya terakhir ini memang kurang ketat, namun mungkin dapat berfungsi sebagai langkah awal menuju sertifikasi RSPO yang lebih komprehensif dalam jangka panjang. 

Logo
 

SCS Global Services Vermont Soap Company, sebuah produsen sabun ternama, pada Desember 2016 berdasarkan standar rantai pasok RSPO.

Perusahaan yang berhasil memenuhi persyaratan standar RSPO berhak mengajukan permohonan untuk menggunakan logo Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat (CSPO).

Untuk informasi lebih lanjut mengenai sertifikasi, klik di sini, atau hubungi Matt Rudolf di [email protected].