Kesehatan dan Kesehatan: Salah Satu Landasan Bangunan Hijau
Penulis: Anna Suarez dan Nicole Muñoz
Arsitek, desainer, dan kontraktor kini sering terlibat dalam proyek-proyek pembangunan baru, renovasi, dan perancangan ulang yang bertujuan untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan iklim. Faktor-faktor yang mendukung terciptanya “bangunan ramah lingkungan” cukup mudah dipahami: efisiensi energi dan sumber energi alternatif, pengurangan konsumsi air, pemanfaatan bahan daur ulang, serta bahan bangunan dan produk perawatan yang rendah emisi. Peraturan bangunan, spesifikasi pemilik, dan permintaan pasar menjadi pendorong tren ini di seluruh dunia.
Salah satu pilar utama gerakan ini adalah upaya mewujudkan “bangunan sehat,” yang berfokus pada kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan penghuninya. Bagaimanapun juga, fungsi utama sebuah bangunan adalah memenuhi kebutuhan penghuninya. Seperti yang bisa diduga, detail-detail kecillah yang sangat penting. Untungnya, ada berbagai sistem penilaian dan sertifikasi yang tersedia untuk membantu.

Misalnya, Standar Bangunan WELL berfokus pada perancangan ruang yang memungkinkan penghuninya berkembang dengan baik. Baik inisiatif Leadership in Environmental and Energy Design (LEED v4) dari U.S. Green Building Council maupun sistem penilaian keberlanjutan BREEAM yang berbasis di Eropa secara aktif mendorong transparansi bahan, kualitas lingkungan dalam ruangan, dan penggunaan bahan bangunan yang sehat (misalnya, kredit LEED v4 MR untuk Pengungkapan dan Optimalisasi Produk Bangunan – Bahan Baku). Program sertifikasi produk, seperti standar kualitas udara dalam ruangan Indoor Advantage™ dari SCS Global Services dan program FloorScore® dari Resilient Floor Covering Institute, menyediakan kriteria terperinci dan persyaratan audit untuk berbagai macam bahan bangunan, cat dan pelapis, furnitur, serta produk lantai, yang pada gilirannya memungkinkan produk tersebut memenuhi syarat untuk pengakuan di bawah berbagai platform bangunan hijau. Kolaborasi Health Product Declaration (HPD) membantu mendorong transparansi produk melalui HPD yang diverifikasi pihak ketiga, yang dapat digunakan untuk memenuhi persyaratan LEED v4 MR, Program Bangunan Sehat Google, daftar Portico, dan Living Product Challenge untuk Net Positive Material Health Imperative. Living Building Challenge dari International Living Future Institute (ILFI) mencakup penggunaan bahan-bahan sehat di antara kriteria utamanya untuk kelayakan dalam basis data label Declare. Dan daftar ini masih berlanjut.
Memang, dengan begitu banyak pilihan yang perlu dipertimbangkan, sangat membantu bahwa Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) telah mengakui banyak program tersebut dalam Rekomendasi Spesifikasi, Standar, dan Label Lingkungan untuk Pengadaan Pemerintah Federal.

Ada manfaat yang signifikan dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat. Sebagaimana dijelaskan dalam laporan musim gugur lalu berjudul “Apa yang Tak Terlihat Bisa Membahayakan Anda: Meningkatkan Kualitas Udara yang Kita Hirup di Dalam Ruangan,” sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Harvard dan SUNY Upstate menemukan bahwa fungsi kognitif dan kinerja individu di gedung ramah lingkungan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berada di gedung konvensional. Beberapa aktivitas yang diuji meliputi pemanfaatan informasi, respons terhadap situasi darurat, dan tingkat konsentrasi.
Minat terhadap transparansi yang lebih besar tidak hanya datang dari penghuni, pemilik, dan perancang bangunan, tetapi juga dari para produsen itu sendiri. Misalnya, PLAE, Bentley Mills, dan Sloan hanyalah beberapa di antara perusahaan yang memanfaatkan upaya sertifikasi internal mereka untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai pemasok bahan baku mereka serta dampak kesehatan yang terkait dengan bahan-bahan produk, guna mengidentifikasi peluang untuk memperbaiki, mengurangi, atau menghilangkan bahan-bahan yang menjadi perhatian.
Masalah yang Masih Berlanjut dan Solusinya
Meskipun permintaan akan bangunan ramah lingkungan terus meningkat, bangunan konvensional masih mendominasi sebagian besar stok bangunan saat ini. Sayangnya, bangunan semacam itu sering kali berdampak buruk bagi kesehatan orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya. Meskipun polusi udara luar ruangan menjadi masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia, udara dalam ruangan sering kali bahkan lebih tercemar. Kontaminan dapat lebih mudah menumpuk di dalam bangunan, sehingga memperparah masalah kualitas udara dalam ruangan dan masalah kesehatan. Salah satu masalah yang paling umum, Sindrom Gedung Sakit, secara langsung dikaitkan dengan kualitas lingkungan dalam ruangan. Penghuni yang menderita sindrom ini sering kali menunjukkan berbagai gejala yang tidak spesifik, termasuk sakit kepala, gejala mirip pilek dan flu, alergi, serangan asma, pusing, dan mual. Hal ini menyebabkan penurunan produktivitas karyawan.

Ada beberapa sumber utama polusi yang perlu diperhatikan:
Bangunan tua yang belum pernah direnovasi mungkin mengandung bahan-bahan yang kini dianggap karsinogenik atau beracun. Baik asbes maupun timbal pernah banyak digunakan dalam bahan bangunan pada dekade-dekade sebelumnya dan masih dapat ditemukan pada struktur bangunan hingga saat ini. Jika sebuah bangunan mengandung salah satu racun tersebut, paparan dapat terjadi selama pemeliharaan rutin bangunan, selama proses renovasi, atau sekadar akibat degradasi bahan-bahan lama. Misalnya, penyelidikan Reuters pada akhir 2016 menemukan bahwa kadar timbal dalam darah anak-anak di 3.000 komunitas di seluruh Amerika Serikat mencapai empat kali lipat lebih tinggi daripada yang tercatat dalam skandal keracunan timbal yang luas di Flint, Michigan. Dalam banyak kasus, kontaminasi ini dikaitkan dengan perumahan tua, sekolah, dan bangunan lain di mana cat berbasis timbal yang sudah tua telah terkelupas dan perlengkapan pipa tua masih digunakan. Perusahaan dan pemilik bangunan harus menyadari bahwa jika karyawan atau penghuni lain menghirup serat asbes atau debu timbal, masalah kesehatan serius dapat muncul bertahun-tahun kemudian, termasuk kanker seperti mesothelioma atau gangguan neurologis, masing-masing. Racun semacam ini memerlukan perhatian profesional segera untuk memitigasi risiko kesehatan yang parah.
Terkadang, produk dan bahan sehari-hari yang ditemukan atau digunakan di dalam gedung dan rumah dapat melepaskan zat kimia ke udara. Produk pembersih, furnitur baru, lantai, dan lainnya dapat melepaskan polutan ke udara melalui proses yang disebut pelepasan gas. Zat kimia yang dihasilkan selama proses ini meliputi senyawa organik volatil (VOC), yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga kanker. Dua VOC yang umum ditemukan di dalam gedung adalah benzena dan formaldehida, yang keduanya dianggap sebagai karsinogen bagi manusia. Ventilasi yang memadai merupakan salah satu kunci untuk mengurangi risiko pelepasan gas dari produk di rumah atau kantor.
Lebih proaktif lagi, kini para pelaku bisnis dan pemilik rumah dapat memilih dari beragam produk “rendah emisi” yang tidak mengandung bahan kimia berbahaya tersebut. Green Products Guide Bersertifikat SCS mencantumkan hampir 5.000 produk yang memenuhi standar kualitas udara dalam ruangan yang ketat hanya dalam program Indoor Advantage-nya saja, serta ribuan produk lainnya yang mematuhi standar lain yang meminimalkan pelepasan VOC. Produsen seperti Herman Miller, Steelcase, Humanscale, dan KI tidak hanya telah memverifikasi produk mereka secara independen, tetapi juga telah menggunakan hasil uji emisi VOC untuk mempelajari cara meningkatkan kinerja lebih lanjut sekaligus mengurangi emisi VOC lebih jauh lagi – yaitu, memanfaatkan data untuk membuat keputusan yang tepat mulai dari desain produk hingga pembelian komponen.
Bangunan yang tidak mengatur tingkat kelembapan, sirkulasi udara, dan ventilasi dengan baik cenderung memiliki polutan biologis di lingkungan dalam ruangan. Sebagaimana dijelaskan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), organisme-organisme ini meliputi jamur, kapang, serbuk sari, dan bakteri, yang dapat tumbuh di dalam bangunan itu sendiri atau masuk dari luar melalui sistem ventilasi bangunan. Untuk mengurangi risiko ini, perlu diperhatikan penumpukan kelembapan dan memeriksa kebersihan titik-titik masuk udara secara rutin. Kontaminan mikroskopis membuat kualitas udara yang buruk tidak dapat diidentifikasi dengan mata telanjang, namun dampaknya tetap terasa jelas.
- Bahan bangunan beracun yang masih tersisa
- Emisi gas dari produk interior
- Kontaminan biologis
Sayangnya, banyak bangunan konvensional yang tidak mampu menyediakan ruang yang sehat bagi para penghuninya. Di sinilah sertifikasi bangunan yang komprehensif dan holistik berperan penting untuk memastikan kondisi lingkungan dalam ruangan yang optimal.
Seiring dengan pembaruan infrastruktur yang sudah tua agar lebih selaras dengan nilai-nilai keberlanjutan, dampak bahan beracun dan polutan di lingkungan kita akan terus ditangani. Langkah-langkah ini, ditambah dengan standar bangunan baru yang ketat serta meningkatnya permintaan akan bangunan ramah lingkungan, akan membantu memastikan bahwa kota-kota kita menjadi lebih berkelanjutan dan sehat seiring berjalannya waktu.
Anna Suarez adalah Spesialis Komunikasi di Mesothelioma dan Pusat Kesadaran Asbes. Dia dapat dihubungi di [email protected]. Nicole Muñoz adalah Direktur Eksekutif Layanan Sertifikasi Lingkungan di SCS Global Services. Dia dapat dihubungi di [email protected], atau +1 .510.452.8031.
Jika Anda menyukai artikel ini, pastikan untuk BERLANGGANAN ke Blog SCS agar mendapat pemberitahuan setiap kali kami menerbitkan artikel baru.